May 22nd, 2013

Hilangnya Cita-Cita Terakhir Di Dunia

kuntawiaji:

“Kariiim, ayo makan duluuu!”

“Iyaa, Buuu. Entaaar.”

Anak ingusan itu, Karim, kembali mencoret-coret paragraf yang ia tuliskan, meremas-remas kertasnya, lalu membuangnya ke tempat sampah di samping meja belajarnya. Suasana kamarnya saat itu temaram. Lampu kamar sengaja ia matikan. Pencahayaan hanya berasal dari lampu belajarnya yang berwarna senja. Di  luar sana, senja yang sebenarnya sudah beranjak menjauh dari dunia. Waktu telah berdetak hingga pukul setengah tujuh malam. Itu artinya sudah lima jam Karim duduk di sana dan mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Karim rela untuk tidak makan dan tidak mandi, demi menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Siang itu, Pak Bardi, wali kelas Karim, berkata di depan kelas, “Anak-anak, dalam pelajaran bahasa Indonesia kali ini, kita akan belajar mengenai cita-cita. Tentunya kalian sudah punya cita-cita masing-masing, bukan? Ayo coba sebutkan satu per satu cita-cita kalian.”

Seluruh anak berebut meneriakkan cita-citanya. Berbagai profesi dan jabatan keluar dari mulut mungil para murid kelas 3 SD itu. Insinyur, astronot, presiden, pemadam kebakaran, foto model, artis sinetron, Pak Bardi (Pak Bardi juga kaget bahwa dirinya ternyata adalah sebuah cita-cita), pegawai negeri, dokter, menteri, anggota DPR, dan lain-lain, dan seterusnya, dan kawan-kawan. Semua antusias, kecuali Karim. Karim? Tidak kah ia memiliki cita-cita? Bukankah menggapai cita-cita setinggi langit adalah doktrin yang sudah tertanam kuat di benak seluruh anak Indonesia? Karim bungkam. Ia bahkan bingung sebenarnya apa cita-citanya.

Melihat Karim yang diam saja, Pak Bardi pun menghampirinya. “Karim, kenapa kamu diam saja? Coba beritahu Bapak apa cita-citamu?” tanya Pak Bardi dengan heran. Karim pun menatap mata Pak Bardi dengan pandangan kosong. Ia berkata, “Pak, Karim ga tau apakah masih ada sesuatu yang masih pantas disebut cita-cita.” “Maksud kamu apa, Karim?” tanya Pak Bardi lagi.

 

***

 

Karim pulang sekolah dengan langkah gontai. Di akhir pelajaran, Pak Bardi menugaskan setiap anak untuk menulis karangan mengenai cita-citanya. PR itu dikumpulkan besok pagi. Bagi yang tidak mengerjakan, akan ada hukuman dari Pak Bardi. PR itu muncul setelah terjadi perdebatan antara Pak Bardi dengan Karim.

“Pak, saya dulu memang pernah punya cita-cita. Tapi sekarang saya sudah lupa apa cita-cita saya. Bagi saya, Pak, cita-cita itu harus sempurna. Harus tinggi. Harus dihargai. Harus mulia. Harus berwibawa. Harus WOW. Harus serba maha. Kalau tidak memenuhi semua kriteria itu, Pak, tidaklah tepat disebut cita-cita. Karena meraihnya akan terlalu mudah,” kata Karim kepada Pak Bardi. Karim melanjutkan, “Kalau dokter adalah sebuah cita-cita, lalu bagaimana dengan kasus-kasus malpraktik? Kalau politisi adalah sebuah cita-cita, lalu bagaimana dengan kasus korupsi yang banyak di televisi? Kalau guru adalah sebuah cita-cita, lalu bagaimana dengan kasus pelecehan seksual oleh guru?”

Mendengar perkataan Karim, Pak Bardi hanya terdiam, kembali ke depan kelas, dan memberikan PR kepada seluruh murid untuk menuliskan cita-citanya. PR dikumpulkan besok pagi. Karim skakmat.

 

***

 

Lima jam Karim terbuang sia-sia di meja belajarnya. Setiap kali ia memikirkan satu cita-cita, setiap kali itu juga ia menemukan cela pada cita-citanya itu. Tumpukan kertas berserakan di samping meja belajarnya. Karim putus asa. Di tengah keputusasaannya itu, terdengar suara adzan. Karim pun tahu satu cita-cita yang tersisa secara sempurna. Karim bercita-cita menjadi Tuhan. Tuhan Maha Sempurna, Maha Segalanya, tidak ada cacat, tidak ada cela. Hanya Tuhan-lah, bagi Karim, cita-cita yang masih tersisa. Karim pun mulai menulis di lembar tugasnya:

 

Menjadi Tuhan

 

Aku ingin menjadi Tuhan. Karena menjadi Tuhan itu hebat. Menjadi Tuhan itu agung. Menjadi Tuhan itu mulia. Menjadi Tuhan itu serba sempurna. Menjadi Tuhan itu cita-cita yang tertinggi yang pernah ada. Karena menjadi Tuhan itu dihormati oleh seluruh manusia. Aku ingin menjadi Tuhan.

 

Tertanda, Karim

 

Senyum merekah di bibir Karim. Tugasnya selesai.

“Kariiim, ayo dong makan dulu, Naaak. Supnya keburu dingin.”

Terdengar suara Ibu kembali memanggil, mengingatkan Karim akan jatah makanannya di meja makan. Karim segera bergegas keluar kamar dan makan. Saat makan, Kak Tyo sedang membuka Youtube di laptopnya.

“Lagi liat video apa, Kak?” tanya Karim penasaran.

“Ini, parodi-parodinya Arya Wiguna. Lucu-lucu deh, Dek.”

“DEMI TUHAAAN…”

Karim terkejut. Tuhan tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral. Tuhan menjadi bahan tertawa ratusan ribu orang di Youtube. Dan Karim pun kehilangan cita-citanya. Tidak akan ada lagi, benar-benar tidak ada lagi, sekali-kali tidak akan pernah ada lagi sesuatu yang bisa dijadikan cita-cita bagi Karim. Dan Karim menyiapkan mentalnya. Karim siap untuk untuk dihukum oleh Pak Bardi besok pagi.

May 10th, 2013
April 29th, 2013
April 28th, 2013
Work hard, pray hard, and be kind to your parents, and do a lot of sedekah but don’t tell anyone.
Yasmin Ahmad (via kuntawiaji)
April 26th, 2013
April 25th, 2013
April 17th, 2013
Jakarta - inspiring picture on PicShip.com on We Heart It. http://weheartit.com/entry/30803180/via/indahzero

Jakarta - inspiring picture on PicShip.com on We Heart It. http://weheartit.com/entry/30803180/via/indahzero

<3 | via Tumblr on We Heart It. http://weheartit.com/entry/58762596/via/kate_n

<3 | via Tumblr on We Heart It. http://weheartit.com/entry/58762596/via/kate_n

April 13th, 2013
Kalian tahu, macan tetap ditakuti meski sedang diam. Namun, anjing akan dilempar jika terlalu banyak menggonggong.
Imam Syafi’i (via kuntawiaji)

(Source: yasirmukhtar, via kuntawiaji)

(Source: kuntawiaji)